Selasa, 08 Juli 2014

Apa yang kita tabur, itulah yang akan dituai



✔ Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api.

✔ Tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.. .

✔ Jadi... Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

✔ Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak. Oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.

✔ Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.

✔ Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung.

✔ Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut.

✔ Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.

✔ Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.

✔ Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita.

✔ Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA. .

✔ Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.

✔ Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

✔ Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.

✔ Saling menghargai, saling membantu dan memberi, juga saling mendukung

✔ Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat.

So just Believe in "Cause and Effect"
Apa yang kita tabur, itulah yang akan dituai.

Selasa, 03 Juni 2014

Ramadhan, Aku Pura-pura Rindu


Perenung untuk Ramadhan mendatang.



Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.

Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu.
Ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu – takut rasanya, bila ternyata umur ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhan kami jalani.
Benar sekali, suka cita kami menyambut kehadiranmu. Apa lagi yang kami tunggu? Maka petasan meledak dan berisik di sana-sini, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab dibersihkan dari debu yang menyelimutinya entah sejak kapan – Ramadhan lalu barang kali.
Berbondong-bondong kami berangkat sholat Tarawih meski berat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisi sudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa: lagu-lagu religi diperdengarkan di mana-mana. 

Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?

Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaAllah targetan kami tercapai.
Kami tak terlalu perduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya – kejauhan.
Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya 'sudah berapa lembar yang sudah dibaca?' Kami bisa menjawab: 'sudah khatam dua kali'. Lalu mereka kagum. Bukankah itu surga?

Tapi, itukah sambutan yang sungguh kau harapkan wahai Ramadhan?

Kami melihat agenda harian kami:
❐ Senin buka bersama dengan X,
❐ Selasa buka bersama dengan Y,
❐ Rabu buka bersama dengan Z, sekaligus Sahur on The Road,
❐ Kamis.. 
❐ Jum’at.. 
..............begitu seterusnya.
Begitulah cara kami merayakan kedatanganmu.
Tarawih bisa dilewatkan karena sunnah, shalat malam jangan ditanya, mana sanggup kami menunaikannya.
Malam-malam kami habiskan dengan tidur dengan lelap karena lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur apalagi ketinggalan acara sahur favorit. Nanti kami dibilang tidak gaul.
Shalat subuh dibulan Ramadhan bagi kami adalah ritual penting menurut alam mimpi.
Ya, kami tidur lagi karena tidur dibulan Ramadhan adalah ibadah.
Puasa kami tidak pernah bolong barang sehari, sebagaimana lisan kami yang tak pernah lupa jadwal amalan gibahnya.
Kami begitu kuat menahan lapar, dahaga, birahi, sebagaimana kami begitu kuat menahan harta yang ada di dompet kami – tak ada yang boleh menyentuhnya, sebab akan kami gunakan untuk lebaran maha meriah kami.
Sesekali kami ingat ucapan penyair itu:
"kau akan menjadi milik hartamu jika kau menahannya, dan jika kau menafkahkannya maka harta itu menjadi milikmu."

Tapi siapa perduli. Lebaran tetaplah lebaran, merayakannya dengan kesederhanaan tak boleh jadi pilihan.


Seperti itukah perlakuan yang ingin kau dapatkan wahai Ramadhan?


Kelak ketika Ramadhan berakhir, kami – dengan mengendarai mobil pribadi kami – akan berkeliling mengunjungi saudara dan kerabat, bermaaf-maafan atau sekedar mencicip kue. Kami tentu senang, bahagia, karena katanya kami menang.

Ah, Ramadhan.

Entahlah, kami tak mengerti: barangkali kami memang cuma pura-pura merindukanmu. 


from: http://azharologia.com/2013/07/24/ramadhan-aku-pura-pura-rindu/

Senin, 02 Juni 2014

Ibu (lagi..)

Ibu...
Engkau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
"Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa, Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya. Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu untuk memberi arti bagi diri dan yang lain"
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku,
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku,
Kau labuhkan hatimu untukku dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Kelembutanmu terasa menembus dinding-dinding kalbuku,
Menghancur-leburkan segala keangkuhan diri,
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia,
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu.

Kutatap perlahan...
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan,
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh...setetes demi setetes,
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu,
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara.

Ibu...
Nasihatmu memberi kekuatan untukku,
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku untuk menapaki hari-hari penuh liku…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu...
Dalam kelembutan cintamu kulihat kekuatan,
dalam tangis air matamu kulihat semangat menggelora,
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!








Aku sayang pada kalian berdua ❤IBU❤ + ❤BAPAK❤

Rabu, 28 Mei 2014

Tuhan Sembilan Senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

✄ Di sawah petani merokok,
✄ Di pabrik pekerja merokok,
✄ Di kantor pegawai merokok,
✄ Di kabinet menteri merokok,
✄ Di reses parlemen anggota DPR merokok,
✄ Di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
✄ Hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
✄ Di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
✄ Di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
✄ Di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
✄ Di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.


Indonesia adalah semacam firdaus jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
⍥ Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
⍥ Di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,

⍥ Di kampus mahasiswa merokok,
⍥ Di ruang kuliah dosen merokok,
⍥ Di rapat POMG orang tua murid merokok,
⍥ Di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

⍥ Di angkot Kijang penumpang merokok,
⍥ Di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
⍥ Di loket penjualan karcis orang merokok,
⍥ Di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
⍥ Di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
⍥ Di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.


Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
⍨ Di pasar orang merokok,
⍨ Di warung Tegal pengunjung merokok,
⍨ Di restoran, di toko buku orang merokok,
⍨ Di kafe di diskotik para pengunjung merokok.


Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
☹ Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
☹ Di apotik yang antri obat merokok,
☹ Di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
☹ Di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok.
☹ Istirahat main tenis orang merokok,
☹ Di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok,
☹ Pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
☹ Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
☹ Di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
☹ Di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.


Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita. Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap (Haasaba, yuhaasibu, hisaaban). Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr (minuman keras). Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas. Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.


Karya asli oleh "Taufik Ismail"
 
Disadur dari : 
https://www.facebook.com/pageislamituindah/posts/10152380146193260

Senin, 19 Mei 2014

Tersenyumlah (La Tahzan inna Allaha Ma'ana)

Elia Abu Madhi berkata:
Orang berkata, "Langit selalu berduka dan mendung"
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana"

Orang berkata, "Masa muda telah berlalu dariku"
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya"

Orang berkata, "Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya. Bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisnya?"
Maka akupun berkata, "Tersenyumlah dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya"

Orang berkata, "Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan, ia laksana musyafir yang akan mati karena terserang rasa haus"
Tapi aku berkata, "Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu. Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya. Maka mengapa engkau harus bersedih dengan dosa dan kesusahan orang lain, apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?"

Orang berkata, "Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka. Sedangkan aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara, namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu dirham (/rupiah)adanya"
Kukatakan, "Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu karena Anda masih hidup, dan engkau tak kehilangan saudara-saudaramu dan kerabat yang engkau cintai"

Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah. Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham (/rupiah) atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?

Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium, juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri. Tertawalah, sebab meteor-meteor langit juga tertawa, mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang. 

Orang berkata, "Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah"
Ku katakan, "Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah lagi tersenyum"

Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaan yang tidak kasar.
Dari Iyadh bin Himar ra. ia berkata: 
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku(Muhammad) agar kalian rendah hati, hingga tidak ada salah seorang diantaramu yang berlaku jahat pada yang lain dan tidak ada salah seorang di antaramu yang membanggakan diri atas yang lain"
[Hadist Riwayat Muslim dan Abu Dawud]

Jumat, 16 Mei 2014

22 Jawaban Muslim Kepada 22 pertanyaan Pendeta


     Ada seorang pemuda arab (sebut saja 'Fulan')yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Fulan adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, Fulan juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, Fulan berkenalan dengan seorang Pemuda Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah untuk memeluk Agama Islam.

     Pada suatu hari saat mereka tengah berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika, mereka pun melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Teman nasrani Fulan meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Mula-mula Fulan keberatan, namun karena desakan dari teman nasraninya. Akhirnya Fulan pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

     Di saat itu, si pendeta sedikit terkejut saat melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Namun Fulan tidak bergerak dari tempatnya. Pendeta mengucapkan perkataan itu berulang-ulang, namun Fulan tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya." Barulah Fulan ini beranjak keluar.

     Di ambang pintu Fulan bertanya kepada sang pendeta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Dan Fulan pun beranjak keluar.
Namun, pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Fulan pun menerima tentangan debat tersebut.

     Pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat." Fulan tersenyum dan berkata, "Silakan!"

Sang pendeta pun mulai bertanya, "Tolong jawab pertanyaanku berikut ini:
 1. Sebutkan satu yang tiada duanya?
 2. Dua yang tiada tiganya?
 3. Tiga yang tiada empatnya?
 4. Empat yang tiada limanya?
 5. Lima yang tiada enamnya?
 6. Enam yang tiada tujuhnya?
 7. Tujuh yang tiada delapannya?
 8. Delapan yang tiada sembilannya?
 9. Sembilan yang tiada sepuluhnya?
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh?
11. Sebelas yang tiada dua belasnya?
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya?
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya?
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, Siapa yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

     Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah. Setelah membaca Basmallah ia berkata,
- Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
- Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah SWT berfirman,
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
- Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
- Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
- Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.
- Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
- Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman,
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
- Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman
"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
- Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, lidah, darah, kutu dan belalang.*
- Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah SWT berfirman,
"Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).
- Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .
- Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,
"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
- Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
- Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah SWT ber-firman,
وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ
وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ
"Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing." (At-Takwir: 18).
- Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
- Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ”tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata,
"Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf:98)
- Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keledai. Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).
- Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.
- Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman,
"Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya':69).
- Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
- Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT,
"Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
- Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban Fulan tersebut. Kemudian ia pun hendak pergi, namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan
ini disetujui oleh pendeta.
Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?" mendengar pertanyaan itu lidah pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil.
Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia cuba mengelak.
Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!"
Pendeta tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapan nya, namun aku takut kalian marah." Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."
Pendeta pun berkata, Jawabannya ialah:
"Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Aasyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.”
Lantas pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**

Subhanallah Wal Hamdulillah Wa La Ilaha Ilallah HuAllahu Akbar
:) :) :)
Semoga Bisa diambil hikmahnya..InsyaAllah

Diposting dan diedit kembali dari:
- https://www.facebook.com/notes/kostanti-kenes-fakaransi/22-jawaban-muslim-kepada-22-pertanyaan-pendeta/597044716985328
(30 Juli 2013 pukul 11:05am)

Selasa, 13 Mei 2014

Sebuah Arloji ...



Alkisah seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya.

Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.

Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari.

Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini cuman dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?" Tanya si tukang kayu.

"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi 'tok-tak, tok-tak!' Dengan itu saya tahu dimana arloji itu berada" Anak itu menjawab.

_____________________________________________

Sahabatku, tahukah engkau bahwa problema yang kita hadapi akan berkurang seperempat hanya dengan membiarkan diri duduk secara tenang?

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kegaduhan'-.

Mungkin inilah hikmah dari ibadah di sepertiga malam. Dikeheningan itulah kita akan lebih merasakan kasih sayang dan kedekatan Allah kepada kita. Tapi mengapa banyak dari kita merasa berat menunaikan ibadah tersebut ?.


Disadur:
- https://plus.google.com/u/0/105205064891229710849/posts
#MARIOTEGUH